Memiliki furnitur antik merupakan kebanggaan  buat sebagian orang, karean faktor kelangkaan dan faktor harga yang selangit. Namun, memilih furnitur antik tidaklah mudah. Diperlukan pengetahuan khusus agar tidak tertipu rayuan pedagang nakal.

Furnitur antik dibagi dua: furnitur antik tua dan reproduksi. Cara membedakannya, furnitur tua biasanya memiliki bekas paku yang berkarat. “Furnitur baru hasil reproduksi, bekas pakunya tidak karatan. Kalau barang tua, di bekas lubang paku pasti ada karat.”

Kedua, furnitur tua memiliki bentuk dan ragam hias tersendiri, tergantung asal dan tahun pembuatan. Furnitur antik di Indonesia, biasanya mendapat pengaruh seni dari Belanda, China, atau Arab.”

Ketiga, harga furnitur antik umumnya fantastis. Contohnya lemari antik hasil reproduksi harganya hanya Rp9 juta, tetapi lemari tua bisa dijual dengan harga Rp180 juta ke atas.

Keempat, hasil finishing furnitur tua, seperti ukiran biasanya lebih halus. “Hal ini disebabkan furnitur tua dibuat dari bahan kayu yang istimewa dan berkualitas tinggi.  “Biasanya satu lembaran papan, walaupun dipotong tipis (8 mm), tidak akan pecah.”

Merawat Furnitur Antik
Merawat furnitur antik sebenarnya sama seperti merawat furnitur kayu biasa, cukup digosok menggunakan teak oil. “Hanya saja, furnitur antik mesti lebih sering digosok, tetapi jangan terlalu keras.”

Satu hal lagi, jangan memakai pledge untuk menggosok furnitur antik berusia tua, karena pledge memiliki unsur silikon. “Jika dibersihkan dengan pledge, hasilnya akan bersih sekali, sehingga akan menghilangkan kerak (patina) di furnitur itu.”  “Untuk furnitur antik, patina biasanya sengaja ditonjolkan, karena menjadi salah satu unsur yang menandai usia barang tersebut.”

sumber: rumah.com